Jakarta, ruangkaji.id — Jika berjalan-jalan ke pasar tradisional di wilayah Sumatra bagian selatan, Bangka Belitung, hingga pesisir Melayu, Anda akan mudah menjumpai kue basah bertekstur lembut bernama Kue Jongkong. Disajikan di dalam takir daun pisang atau cup bening, kudapan berbahan dasar tepung beras ini menawarkan sensasi manis gurih dari perpaduan santan dan gula aren. Namun, di balik kelezatan yang menenangkan ini, catatan sejarah lisan masyarakat pesisir merekam seuntai kisah perlawanan terselubung yang emosional di era kolonial Hindia Belanda.
Bukan sekadar urusan memanjakan lidah, pemilihan bahan dan warna pada Kue Jongkong di masa lalu merupakan sebuah bentuk protes sunyi. Rakyat menggunakan dapur sebagai media untuk menegaskan identitas dan nasionalisme mereka di bawah tekanan penjajah.
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah pesisir Sumatra dan Kepulauan Bangka Belitung menjadi area krusial bagi pemerintah kolonial Belanda karena kekayaan tambang timah dan jalur perdagangan lada. Di bawah cengkeraman kekuasaan asing yang represif, ruang gerak masyarakat pribumi untuk mengekspresikan jati diri bangsa dan melakukan perlawanan fisik sangat dibatasi.
Kondisi ini memaksa para tetua adat dan ibu rumah tangga memutar otak. Mereka memindahkan medan pertempuran dari angkat senjata ke meja makan. Saat itu, atribut kolonial seperti bendera Merah-Putih-Biru (Tricolor) Belanda berkibar dengan angkuh di gedung-gedung administrasi, menjadi simbol dominasi yang menjajah mata dan tanah rakyat setiap hari.
Sebagai bentuk perlawanan estetik dan penolakan terselubung terhadap simbol-simbol penjajah, masyarakat lokal sengaja menciptakan dan mempopulerkan kudapan yang menggunakan warna-warna alam tanah air secara kontras. Dari sanalah struktur lapisan Kue Jongkong dikukuhkan secara filosofis:
Lapisan Hijau (Pandan): Menggunakan perasan daun pandan asli yang melambangkan kesuburan alam, hutan, dan tanah air Nusantara yang hijau royo-royo. Warna ini menjadi penegasan bahwa tanah ini adalah milik bumiputera.
Lapisan Putih (Santan): Menggunakan santan kelapa kental yang melambangkan kesucian hati, ketulusan perjuangan, sekaligus kebersamaan rakyat kecil.
Cairan Cokelat Tua/Hitam (Gula Aren): Terletak di bagian paling dasar kue, cairan manis dari nira pohon aren ini melambangkan akar bumi pertiwi, pondasi adat istiadat, dan kekayaan terpendam yang tidak boleh dijarah oleh bangsa asing.
Masyarakat lokal secara sadar memilih untuk mengonsumsi makanan yang mencerminkan warna bumi pertiwi. Melalui media ini, mereka menyebarkan pesan moral secara sunyi kepada generasi muda: bahwa rasa manis sejati hanya bisa ditemukan pada hasil bumi sendiri, bukan pada janji-janji manis kompeni.
Secara etimologis, nama “Jongkong” dalam bahasa melayu lokal merujuk pada bentuk wadah atau cetakan tradisionalnya yang menyerupai bentuk perahu lesung atau sampan kecil. Perahu sendiri merupakan simbol mobilitas, perjuangan, dan ketangguhan masyarakat pesisir Indonesia dalam mengarungi ombak zaman.
Kini, setelah puluhan tahun merdeka, Kue Jongkong tetap bertahan sebagai warisan kuliner yang dicintai. Saat menyantap sesendok kue jongkong yang lembut hari ini, kita tidak hanya menikmati harmoni rasa gurih dan manisnya, tetapi juga sedang merayakan kemenangan sebuah identitas bangsa yang pernah dipertahankan dengan sangat anggun melalui kreasi dari balik dapur rumah tangga.