Jakarta, ruangkaji.id – Siapa yang bisa menolak kelezatan rendang? Olahan daging dengan balutan rempah pekat berwujud gelap ini telah lama diakui sebagai salah satu hidangan terbaik di panggung gastronomi dunia. Namun, di balik cita rasanya yang berlapis dan kompleks, tersimpan narasi sejarah yang panjang. Jauh sebelum tersaji di piring-piring Rumah Makan Padang modern, hidangan ini merupakan bentuk pertahanan hidup sekaligus simbol status sosial masyarakat Minangkabau.
Menariknya, pembuktian autentisitas rendang tidak hanya bersandar pada tradisi lisan (tambo) Sumatera Barat. Jejak otentik kuliner legendaris ini juga terekam kuat dalam lembaran arsip kuno di Eropa, termasuk koleksi Universitas Leiden di Belanda.
Melansir data sejarah literatur yang tersimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Leiden University, salah satu deskripsi tertulis paling awal mengenai kuliner mirip rendang ditulis oleh seorang perwira militer Belanda bernama Kolonel Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers.
Saat menjabat sebagai residen di wilayah Padang pada periode 1824–1829, De Stuers mengamati pergerakan para pedagang lokal yang melintasi jalur Sungai Kuantan dan Indragiri. Dalam catatan bertarikh 1827, ia menggambarkan sebuah logistik makanan unik berupa olahan daging yang dimasak sangat kering hingga warnanya menghitam.
Meski pada masa itu istilah kata “rendang” belum secara resmi digunakan dalam dokumen formal barat—dan sang kolonel sempat menganggapnya sebagai makanan yang terlalu kering—karakteristik fisik “daging gelap yang awet” tersebut merujuk kuat pada teknik marandang.
Lambat laun, pandangan kolonial terhadap kuliner Minangkabau berubah total. Memasuki awal abad ke-20, rendang mulai naik kelas. Berdasarkan arsip surat kabar lawas Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi Januari 1935, hidangan bernama “Rendang Padang” sudah masuk ke dalam daftar menu mewah restoran elit seperti Maison Domenico di Semarang. Rendang diadopsi sebagai bagian penting dari seni penyajian makanan gaya Rijsttafel oleh kaum elit Eropa saat itu.
Secara historis, para ahli meyakini bahwa rendang merupakan bentuk evolusi lokal dari hidangan kari khas India. Kontak dagang yang intensif antara masyarakat pesisir Sumatera Barat dengan saudagar asal Gujarat pada abad ke-14 memicu akulturasi rasa. Masyarakat Minang kemudian memodifikasi kuah kari yang cenderung encer dengan terus mengaduknya di atas api kecil selama berjam-jam hingga mengering tanpa sisa air.
Proses dehidrasi masakan ini melahirkan fungsi krusial: pengawetan alami. Memasuki abad ke-16, gelombang mobilitas masyarakat Minang yang melakukan perjalanan laut menuju Selat Malaka hingga Singapura menuntut adanya bekal yang tahan lama. Berkat bumbu rempah antimikroba yang dimasak hingga mengkristal hitam, rendang menjadi penyelamat perut para perantau selama berbulan-bulan di lautan.
Kini, warisan rasa dari dapur Kerajaan Pagaruyung ini bukan lagi sekadar pelengkap upacara adat atau bekal merantau. Rendang telah menjelma menjadi diplomasi budaya Indonesia yang melintasi batas-batas negara.