Jakarta, ruangkaji.id – Di balik kesederhanaan semangkuk Sayur Lodeh yang kerap tersaji di meja makan keluarga Indonesia, tersimpan narasi militer yang dramatis. Jauh sebelum menjadi menu rumahan yang merakyat, sayur berkuah santan gurih ini merupakan menu darurat yang lahir di barak persembunyian gerilya saat faksi pejuang nusantara berupaya merebut Batavia dari cengkeraman VOC.
Sejarah lisan dan catatan tutur lawas mengaitkan popularitas menu ini dengan momentum penyerangan besar-besaran pasukan koalisi Mataram, Cirebon, dan pasukan lokal ke benteng kompeni di Batavia. Menghadapi gempuran tersebut, pihak VOC menerapkan taktik defensif yang kejam: membumihanguskan lumbung-lumbung padi di perimeter luar kota demi memutus jalur logistik pejuang.
Akibatnya, pasukan gerilya yang bertahan di dalam hutan-hutan pinggiran Batavia mengalami krisis pangan akut. Dapur umum darurat tidak lagi memiliki pasokan daging atau beras yang memadai untuk memberi makan ribuan prajurit yang kelelahan dan terluka.
Dalam kondisi jepit tersebut, para juru masak barak militer menginstruksikan prajurit untuk memetik tanaman apa pun yang tumbuh liar di sekitar hutan persembunyian. Terkumpullah nangka muda (tewel), daun melinjo, terung, labu siam, dan kacang panjang.
Bahan-bahan heterogen tersebut kemudian direbus bersama perasan santan kelapa tua yang melimpah di hutan, lalu dibumbui dengan garam dan kemiri seadanya. Ketika masakan matang, hidangan berkuah hangat ini mampu memulihkan energi fisik dan moral para pejuang yang kedinginan di barak darurat.
Keunikan masakan ini memicu pertanyaan di antara para prajurit yang berasal dari latar belakang suku yang berbeda-beda. Ketika seorang prajurit dari tanah Jawa menanyakan nama sayur tersebut kepada penanggung jawab dapur yang kebetulan warga lokal (Betawi), si juru masak yang sedang sibuk dan lelah menjawab dengan ketus:
“Terserah lo deh!” (Maksudnya: Mau dinamakan apa saja silakan).
Para prajurit lintas daerah yang kurang fasih berbahasa Betawi mengira frasa “Lo deh” adalah nama resmi dari kuliner penyelamat tersebut. Nama Sayur Lodeh akhirnya melekat erat sebagai simbol persatuan, improvisasi, dan daya tahan tak terbatas pasukan Indonesia di masa perang.