Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Indonesia Pertama yang Menginspirasi Universitas Al-Azhar Mesir

Jakarta, ruangkaji.id – Indonesia tidak pernah kekurangan pahlawan hebat. Jauh sebelum teknologi internet menyatukan dunia, seorang perempuan muda dari kaki Gunung Singgalang, Sumatera Barat, telah mengguncang dunia pendidikan internasional. Ia adalah Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.

Nama Rahmah bukan sekadar nama dalam sejarah. Beliau adalah simbol perlawanan, ketegasan, dan bukti nyata bahwa perempuan Indonesia memiliki kecerdasan kelas dunia sejak zaman penjajahan.

Banyak yang mengenal Rahmah hanya sebagai pendiri sekolah. Padahal, dalam arsip sejarah kolonial, Rahmah El Yunusiyah adalah sosok “keras kepala” yang paling ditakuti oleh intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst / PID) karena sikap non-kooperatifnya.

Pemerintah kolonial Belanda melalui Controleur (pejabat wilayah) Padang Panjang bernama Van Straten, berkali-kali datang merayu Rahmah. Belanda menawarkan subsidi dana yang sangat besar agar Diniyyah Puteri didaftarkan sebagai sekolah resmi pemerintah.

Namun, Rahmah dengan tegas menolak mentah-mentah uang tersebut. Beliau sadar, jika menerima uang Belanda, maka kurikulum sekolahnya akan disetir oleh penjajah. Dengan berani, Rahmah berkata:

“Diniyyah Puteri adalah sekolah kepunyaan umat, dibiayai oleh umat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah!”

Tidak berhenti di situ, Rahmah memimpin demonstrasi besar menentang Ordonansi Sekolah Liar (peraturan Belanda yang melarang sekolah Islam tanpa izin) dan Ordonansi Perkawinan Tercatat pada tahun 1930-an. Akibat keberaniannya membela hak masyarakat, Rahmah sempat ditangkap dan dipenjarakan oleh otoritas kolonial karena dianggap menyebarkan semangat nasionalisme yang berbahaya.

Mengapa Rahmah begitu bersikeras membuat sekolah khusus perempuan? Lahir pada 26 Oktober 1900, Rahmah melihat bahwa sistem pendidikan campuran (co-educational) membuat ruang gerak perempuan terbatas. Banyak masalah khas perempuan, seperti fikih wanita, kesehatan reproduksi, dan keterampilan rumah tangga, tidak diajarkan secara maksimal jika kelas digabung.

Pada 1 November 1923, dalam usia yang masih sangat muda (23 tahun), ia mendirikan Al-Madrasah Al-Diniyyah Li Al-Banat (Diniyyah Puteri). Filosofi Rahmah sangat mendalam namun sederhana: “Jika kamu mendidik seorang pria, kamu hanya mendidik satu manusia. Tapi jika kamu mendidik seorang wanita, kamu sedang mendidik sebuah keluarga dan masa depan bangsa.”

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Rahmah adalah orang pertama yang berani mengibarkan bendera Merah Putih di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Saat Belanda dan sekutu mencoba merebut kembali Indonesia lewat Agresi Militer, Rahmah melepas jubah gurunya. Beliau memelopori berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang. Ketika para pria ragu, Rahmah mengajukan diri menjadi komandan. Ia merelakan seluruh harta, uang, dan gedung asrama sekolahnya dijadikan markas pertahanan serta dapur umum bagi para gerilyawan.

Kegeniusan sistem pendidikan yang dirancang Rahmah akhirnya terdengar sampai ke Timur Tengah. Pada tahun 1955, Imam Besar Universitas Al-Azhar Mesir, Syekh Abdurrahman Taj, datang langsung ke Padang Panjang. Beliau takjub melihat bagaimana sebuah sekolah di kota kecil Indonesia bisa mengelola pendidikan perempuan secara mandiri dan modern.

Dua tahun kemudian, pada 1957, Rahmah diundang ke Kairo, Mesir. Universitas Al-Azhar—salah satu universitas Islam tertua dan paling prestisius di dunia—menganugerahinya gelar Syaikhah (Guru Besar/Ulama Perempuan). Rahmah adalah perempuan pertama di dunia yang menerima gelar kehormatan tertinggi tersebut.

Hebatnya lagi, sistem asrama dan kurikulum Diniyyah Puteri diadopsi oleh Al-Azhar untuk mendirikan Kulliyatul Banat (Fakultas Khusus Perempuan) di Mesir.

Rahmah El Yunusiyah wafat pada 26 Februari 1969 dan kini telah diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Kisah hidup beliau mengajarkan kita bahwa Indonesia didirikan oleh orang-orang bermental baja. Mereka tidak bisa dibeli dengan uang penjajah, berwawasan global, namun tetap memegang teguh identitas bangsa dan agamanya.

Bagi generasi muda hari ini, Rahmah adalah bukti nyata bahwa keterbatasan zaman bukanlah alasan untuk berhenti berdampak bagi dunia.

 

Related