Kisah Pilu di Balik Manisnya Getuk Lindri

Jakarta, ruangkaji.id – Di balik teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis, sepiring Getuk Lindri menyimpan memori kolektif tentang kelaparan yang menyayat hati. Kudapan berbahan dasar singkong khas Jawa Tengah ini bukan lahir dari ruang dapur yang makmur, melainkan dari sebuah tragedi kemanusiaan di era kolonial Hindia Belanda yang memaksa rakyat kecil memutar otak agar tidak mati kelaparan.

Pangkal cerita bermula pada abad ke-19, ketika pemerintah kolonial Belanda gencar menerapkan kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa). Di wilayah Magelang dan sekitarnya, lahan-lahan sawah subur milik petani lokal dirampas paksa untuk ditanami komoditas ekspor komersial seperti kopi, tebu, dan nila.

Akibatnya, produksi padi domestik merosot tajam. Beras menjadi barang mewah yang langka dan harganya tak terjangkau oleh kantong rakyat pribumi. Kelaparan massal melanda desa-desa. Dalam kondisi kritis tersebut, masyarakat lokal dilarang memprotes dan dipaksa mencari alternatif pangan mandiri demi menyambung hidup dari hari ke hari.

Melihat penderitaan warga desanya, seorang tetua adat bernama Mbah Mohtar memelopori pemanfaatan singkong (manihot esculenta), tanaman tangguh yang saat itu dianggap sebelah mata oleh kompeni Belanda. Singkong tersebut dikupas, direbus hingga empuk, lalu ditumbuk massal di atas lesung batu atau kayu.

Proses penumbukan manual yang melelahkan ini memicu suara konstan “tuk… tuk… tuk…” di seantero desa. Dari bunyi gesekan lambat itulah frasa “Getuk” lahir. Masyarakat menolak menyerah pada keadaan; mereka menghaluskan singkong tersebut, mencampurnya dengan sedikit gula kelapa sisa, lalu menyajikannya sebagai pengganti nasi.

Seiring berjalannya waktu, teknik pembuatan getuk mengalami evolusi estetika. Istilah “Lindri” diambil dari nama alat penggulung serat tekstil tradisional yang digunakan oleh buruh tenun pada masa itu.

Warga memodifikasi cetakan kayu sederhana yang meniru cara kerja mesin lindri tersebut, sehingga adonan singkong yang keluar berbentuk serat-serat panjang berjejer rapi sebelum dipotong-potong. Bentuk yang cantik ini sengaja dibuat untuk menghadirkan sedikit kegembiraan di tengah getirnya hidup di bawah garis penjajahan. Getuk Lindri bukan sekadar jajanan pasar, ia adalah monumen hidup dari ketahanan dan harga diri pangan rakyat Jawa.

 

Related