Jakarta, ruangkaji.id – Kuliner Bandung selalu punya cara unik untuk mencuri perhatian, termasuk dalam urusan penamaan. Salah satu jajanan paling populer di Jawa Barat, Odading, ternyata mengantongi sejarah penamaan yang menggelitik. Nama roti goreng manis bertekstur empuk ini lahir murni dari sebuah kesalahpahaman linguistik antar dua kubu yang berbeda kelas sosial di masa kolonial Belanda.
Memasuki awal abad ke-20, kota Bandung tumbuh menjadi pusat peristirahatan kaum elit perkebunan (preangerplanters) asal Belanda. Pada masa itu, batas sosial antara kaum kompeni yang tinggal di rumah-rumah megah dan warga pribumi yang berprofesi sebagai pedagang kecil sangatlah kontras.
Di sudut-sudut kampung, para ibu pribumi kerap membuat camilan sederhana dari adonan tepung terigu, gula, dan ragi yang digoreng dalam minyak panas. Kue tanpa nama ini biasanya dijajakan oleh anak-anak kecil menggunakan tampah anyaman bambu, masuk keluar dari satu gang ke gang lainnya di sekitar pemukiman ekspatriat.
Alkisah, seorang anak dari keluarga pejabat administrasi Belanda melihat seorang bocah pribumi sedang memikul wadah kue goreng tersebut. Tertarik dengan aromanya yang harum, sang anak kompeni merengek hebat kepada ibunya (nyonya besar) minta dibelikan kue tersebut.
Karena tidak tahu nama panganan jalanan itu, sang nyonya memanggil si penjual kecil dan menyuruhnya membuka daun pisang penutup wadah. Begitu penutup dibuka dan melihat gumpalan roti goreng kuning keemasan, si nyonya dengan nada heran dan spontan berseru dalam bahasa ibunya
“O, dat ding!” (Artinya: “Oh, benda yang itu!”)
Si anak penjual kue yang sama sekali tidak paham bahasa Belanda pulang ke rumah dengan perasaan gembira karena dagangannya diborong. Ia menceritakan kejadian itu kepada ibunya dan menyebut bahwa orang-orang Belanda menyukai kue bernama “O-dat-ding”.
Frasa Belanda tersebut menyebar dari mulut ke mulut di kalangan pedagang lokal. Menyesuaikan dengan dialek Sunda yang luwes, lafal “O, dat ding” perlahan bergeser menjadi Odading. Hingga hari ini, nama hasil salah paham zaman kolonial tersebut abadi dan menjadi salah satu warisan kuliner jalanan paling ikonik di Indonesia.